Tampilkan postingan dengan label Cerpen KKP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen KKP. Tampilkan semua postingan
#Cerpen "Mission (AlShill)"
MISSION (AlShill)
(Devi Argina Fitriyani - XI IIS 1)
Namanya Alvin Jeremy.”
Manik coklat gelap itu menatap lekat-lekat selembar foto di tangannya. Sementara telinganya terfokus pada kata demi kata yang terlontar dari mulut sang Ayah, Ayah kandungnya.
“Dengarkan...”
“Dekati dia.”
Matanya kembali menatap foto di tangannya. Dia, seorang Alvin Jeremy.
“Mengendaplah dalam hidupnya.”
Lelaki bermata sedikit sipit, dengan manik hitam pekat menghuni di dalamnya.
“Curi dan genggam hatinya.”
Hidungnya yang mancung. Bibirnya yang tipis. Dengan paras oriental berkulit putih.
“Kemudian...”
Ini tak dapat dipungkiri, dia sangat tampan.
WUSSHHHH
“...Bunuh dia tepat di jantungnya.”
***
Dia menghela napas sebentar, kemudian beralih menatap jam tangannya. Dan setelahnya ia mempercepat langkahnya.
BRUUUKK
Alvin Jeremy.
“Ehm... Maaf aku tidak sengaja.” Lelaki itu menggaruk tengkuknya. “Sekali lagi maaf rrr...siapa namamu?”
Gadis itu menghembuskan napas panjang. Matanya bergerak-gerak gugup meski wajahnya tetap datar, sama sekali tak kunjung berubah. Ada yang aneh di sini.
“Shilla, Ferly Ashilla.”
“Ah, maaf Shilla. Namaku, Alvin Jeremy.”
“Permisi?” Tangan Alvin berkibas di depan wajah Shilla. Gadis itu tersentak bersama dengan pemikirannya yang amburadul seketika. Wajahnya masih datar, meski pada nyatanya ia merutuk dalam hati atas kebodohannya.
“Ah-Oh-Iya, tidak masalah, mmm...Alvin.”
“Salam kenal, Shilla.”
“Ya.”
***
Manik coklat gelap itu menatap lekat-lekat selembar foto di tangannya. Sementara telinganya terfokus pada kata demi kata yang terlontar dari mulut sang Ayah, Ayah kandungnya.
“Dengarkan...”
Gadis itu mendongak. Menampakkan wajah cantik menawannya yang terlihat siluet akibat sinar matahari sore merambat lurus menembus jendela besar di sampingnya. Angin yang berhembus-hembus nakal menyelonong masuk dari celah jendela, menggerakkan mahkota kepalanya yang terikat satu dengan asal.
Manik matanya yang coklat gelap sangat cocok bersanding dengan hidung kecil namun mancung, dengan bibir delima berwarna merah pekat bagai darah, dan dengan kulit putih yang kelewat putih —yang justru menunjukkan kesan pucat. Wajahnya datar dengan tatapan yang kian menajam. Namun, tetap tidak menenggelamkan paras cantik milik gadis bercardigan hitam saat ini.
Lelaki paruh baya di belakang meja bundar itu menyeringai, menantang tatapan tajam ‘Putri Kesayangannya’ . Meski itu setajam pedang bermata dua, tetap tak berarti apapun baginya. Ia sangat paham, putrinya ini seorang yang kooperatif.
“Dekati dia.”
Matanya kembali menatap foto di tangannya. Dia, seorang Alvin Jeremy.
“Mengendaplah dalam hidupnya.”
Lelaki bermata sedikit sipit, dengan manik hitam pekat menghuni di dalamnya.
“Curi dan genggam hatinya.”
Hidungnya yang mancung. Bibirnya yang tipis. Dengan paras oriental berkulit putih.
“Kemudian...”
Ini tak dapat dipungkiri, dia sangat tampan.
WUSSHHHH
“...Bunuh dia tepat di jantungnya.”
***
Wajahnya tampak tenang. Begitupun dengan langkah kaki jenjangnya yang tertutupi jeans berwarna hitam. Dibahunya tersampir tas selempang berwarna Baby Blue, sementara tangannya memeluk beberapa buku tepat di depan dada.
Seperti biasa, coklat gelap itu menatap dengan awas apapun yang ada di sekitarnya, berusaha menyembunyikan ketajaman itu rapat-rapat. Dalam telinganya, sebuah pesan yang ia terima pagi ini terputar kembali. Seolah mengingatkannya agar tidak lupa. Tidak lengah. Tidak salah langkah.
Dia menghela napas sebentar, kemudian beralih menatap jam tangannya. Dan setelahnya ia mempercepat langkahnya.
BRUUUKK
Dua tubuh manusia itu berbenturan, saling menjauh lagi dan terjatuh bersamaan dalam seperkian detik. Buku dalam pelukannya berserakan, yang kemudian dengan sigap telah tersusun lagi dalam pelukannya. Satu buku lagi yang belum ia ambil, dan buku itu berada tepat di depan sepasang sepatu, dengan sang empunya yang nampak sudah berdiri lebih dulu selepas insiden barusan.
Gadis itu segera mengambilnya dan menaruhnya dalam pelukannya. Buru-buru ia berdiri, mendongak untuk melihat pelaku —atau korban?— dalam Insiden yang baru saja terjadi. Tangan kirinya menyibak poninya sejenak sebelum akhirnya menumbukan coklap gelapnya pada sepasang hitam pekat di hadapannya.
Hidung kecil namun mancung itu menahan napas kala mendapati apa yang ia lihat dengan kepala matanya sendiri. Lelaki bermata sedikit sipit, dengan manik hitam pekat menghuni di dalamnya. Hidungnya yang mancung. Bibirnya yang tipis. Dengan paras oriental berkulit putih.
Alvin Jeremy.
Keduanya terdiam cukup lama. Tak ada yang berani menginterupsi duluan. Desah angin di sekitar mencoba mengajak mereka mengeluarkan suara, sayangnya sia-sia. Bungkam seribu bahasa, namun mata mereka seolah saling berbicara. Meski tak ada Doraemon dengan mesin waktunya sekarang, tapi mereka seperti merasa waktu terhenti cukup lama. Cukup lama hingga sepertinya kebisuan ini harus segera berakhir.
“Ehm... Maaf aku tidak sengaja.” Lelaki itu menggaruk tengkuknya. “Sekali lagi maaf rrr...siapa namamu?”
Gadis itu menghembuskan napas panjang. Matanya bergerak-gerak gugup meski wajahnya tetap datar, sama sekali tak kunjung berubah. Ada yang aneh di sini.
“Shilla, Ferly Ashilla.”
“Ah, maaf Shilla. Namaku, Alvin Jeremy.”
Shilla meneliti sosok di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Alvin Jeremy, Shilla sudah mengetahuinya lebih dulu. Bahkan seluk beluk Alvin yang tak terpublish juga sudah ia pahami. Alvin Jeremy, Mahasiswa semester 3 jurusan Managemen Bisnis. Alvin Jeremy, anak tunggal dari pasangan Tuan dan Nyonya Jeremy. Alvin Jeremy, Pewaris tunggal bisnis keluarga Jeremy. Alvin Jeremy, lelaki yang lebih suka menganggap dirinya sebagai ‘anak-ayahnya’ daripada ‘anak-Tuan-Jeremy-Pebisnis-Sukses-Nan-Terkenal’, dia tidak sombong dan sederhana. Itu hanya sebagian yang akan disebutkan, sementara sisanya lebih baik ditulis daripada disebutkan.
“Permisi?” Tangan Alvin berkibas di depan wajah Shilla. Gadis itu tersentak bersama dengan pemikirannya yang amburadul seketika. Wajahnya masih datar, meski pada nyatanya ia merutuk dalam hati atas kebodohannya.
“Ah-Oh-Iya, tidak masalah, mmm...Alvin.”
Tangan Alvin mundur dari posisinya, kemudian beralih pada tengkuknya untuk sekedar menggaruknya meski itu tidak gatal. Seulas senyum bersahabat terulas di wajah Alvin. Shilla terpana untuk sejenak. Hanya sejenak, karena detik berikutnya ia buru-buru menyadarkan diri.
“Salam kenal, Shilla.”
“Ya.”
***
Kedua mata Shilla fokus memperhatikan jajaran buku di hadapannya. Sesekali diambilnya salah satu buku di sana, kemudian ditaruhnya kembali dengan senyum miris. Dulu Shilla bercita-cita ingin menjadi dokter, sama seperti kebanyakan cita-cita anak sebayanya. Kenapa? Karena ia ingin menyembuhkan teman-temannya? Tidak juga. Shilla dulu punya Ibu, iya, dulu sekali ketika ia masih belajar di taman kanak-kanak. Ia memang masih kecil kala itu, tapi bukan berarti ia bisa dibodohi. Ia bahkan mengetahui penyebab kematian ibunya. Ibunya yang ternyata lebih dulu pergi sebelum ia berhasil menjadi dokter.
Lantas, apa setelah itu cita-citanya sirna? Tidak. Tidak sama sekali. Justru karena itu ia semakin ingin menjadi seorang dokter. Menyembuhkan orang-orang, agar bisa membuat ibunya bangga padanya. Tapi...dalam perjalanan waktu, lingkungan sekitarnya justru membentuknya menjadi pribadi yang melenceng dari harapan awal. Mengingat ia sekarang menjadi apa justru membuat ia merasa miris. Keinginan tidak sesuai kenyataan.
Ini buku keempat yang Shilla ambil, dan pada akhirnya bernasib sama dengan yang sebelumnya —kembali ke tempat semula tanpa sempat dibaca. Percuma saja, pikirnya. Nasi telah menjadi bubur, arang telah menjadi abu, semuanya sudah menjadi hal yang tabu. Tak dapat kembali seperti semula dan menjadi sesuai harapan. Begitu kan siklusnya?
Ia membalik badan. Matanya membulat dan nafasnya tertahan seketika ketika puncak kepalanya terantuk dagu dengan rahang yang tegas. Shilla menghembuskan napas sebentar sebelum akhirnya mendongak. Alvin Jeremy.
“Aku sedang mencarikan buku tentang kedokteran untuk temanku. Hari ini dia tidak masuk, hah... merepotkan. Kamu sendiri sedang apa?”
Shilla mengangkat wajahnya, coklat gelapnya bersibobrok dengan si onyx. “Tidak ada, hanya sedang ingin kemari.”
Entah bagaimana bisa, setelah Shilla mengetahui sosok si pemilik dagu itu adalah Alvin, mereka jadi duduk berhadapan di meja perpustakaan dekat jendela. Tak ada buku menemani mereka, hanya mengobrol ringan di perpustakaan. Mungkin tak ada salahnya menyalahgunakan fungsi perpustakaan. Ah, benarkah begitu?
***
Katakan bahwa telinganya salah mendengar. Katakan bahwa nefronnya tidak sedang berfungsi dengan baik. Katakan bahwa tubuhnya sedang dalam bayang-bayang mimpi. Katakan sekarang!
Ia menoleh cepat pada sosok di sampingnya. Wajah oriental itu menghadap lurus dengan matahari yang tengah beranjak ke peraduan. Semburat jingga menimpa wajahnya dengan indah. Angin laut mengisi suasana di antaranya. Jadi, untuk ini Alvin mengajaknya ke pantai?
Shilla sungguh jelas merasakan dadanya bergemuruh. Darahnya memanas, dan terasa paling panas di sekitar daerah wajahnya. Hatinya berdesir seirama dengan detak jantungnya yang berdetak cepat. Tidak, ini salah! Tidah seharusnya Shilla begini! Ini aneh! Demi apapun, bahkan baru 4 bulan setelah pertemuan mereka.
“A-a-apa?” Shilla tergagap. Shilla telah lupa dan ia lengah.
“Aku mencintaimu, Shilla. Jadilah kekasihku?” Alvin menoleh dengan seulas senyum menawan.
Jangan menoleh. Tidak! Atau kau akan lupa, lengah dan kemudian salah langkah. Shilla mati-matian untuk menahan hasratnya agar tidak menoleh. Jangan lagi lupa dan juga lengah apalagi salah langkah. Sesuatu dalam diri Shilla sudah terlalalu jauh.
Manik coklat gelap Shilla perlahan tertutup oleh kelopak mata Shilla. Ia mencoba berfikir jernih dalam pejaman matanya. Semuanya harus dipikirkan matang-matang. Jangan lagi salah, Shilla. ingat tujuan Awal. Mati-matian Shilla memperingatkan dirinya.
“Baiklah.”
Senyum Alvin terkembang lebar. Benarkah cintanya terbalas? Shilla telah menjadi kekasihnya?
“Aku mencintaimu.”
“Ya.”
Tidak ada balasan, meski Shilla ingin, sama sekali tidak ada. Hanya menanggapi dan setidaknya itu cukup. Shilla sudah terlalu jauh salah langkah. Jangan melangkah lebih jauh lagi.
Tidak dan semuanya aman.
***
CUP
Seperti biasa, Shilla masih bertahan di balik topeng datarnya ketika Alvin mendaratkan kecupan ringan di pucuk kepalanya. Sementara Alvin tetap mengulas senyum. Bohong jika Alvin tidak sadar, sejak awal ia sudah merasa ada yang aneh dari Shilla. Ia jelas merasakan itu. Toh, pada akhirnya ia tetap tidak peduli pada apapun. Shilla menjadi kekasihnya, itu sudah cukup. Alvin tidak menuntut balas apapun atas rasa cintanya.
Jika memang Shilla belum —atau mungkin tidak?— mencintainya, bagi Alvin ini mudah. Sama halnya seperti menanam. Cinta seperti sebuah bibit, cinta mudah ditanam jika dirawat dengan baik, dan tentunya ditanam dalam tanah yang cocok. Mungkinkah hati Alvin itu adalah tanah yang cocok? Tidak peduli iya atau tidak, Alvin akan tetap berusaha. Cinta telah membuatnya jadi begini.
“Masuklah, ini sudah malam.”
Shilla mengangguk, tersenyum sekilas dan kemudian berbalik badan sesuai perintah Alvin.
“Shill...” Alvin berujar, membuat Shilla dengan gerakan ragu menghadapkan tubuhnya lagi ke Alvin. Alvin masih dalam posisinya, di atas motornya, tak bergeser sedikitpun.
“Aku...” Alvin meneguk ludahnya sendiri.
Shilla? Gadis itu pintar sekali bersembunyi di balik topeng sempurnanya sekarang.
“Aku... aku pulang dulu.”
Hanya sebuah anggukan dengan senyum sekilas yang Alvin dapat setelahnya. Alvin mendesah dalam diam, memandang kecewa punggung Shilla yang kian menjauh dari hadapannya. Alvin tidak meminta sebuah pelukan hangat maupun sebuah kecupan manis. Tapi, setidaknya katakan sesuatu yang membuat Alvin tenang.
Merasa memang percuma, ia memulai menghidupkan mesin motornya. Shilla telah benar-benar menghilang dari hadapannya, ia tidak akan mendengar apapun saat ini dari bibir Shilla. Percuma saja. Roda dua itu mulai bergerak dengan seiring desahan kecewa dari Alvin.
Setidaknya, katakan bahwa kau mencintaiku.
***
Pintu bercat seputih tulang itu terbuka kembali, seseorang yang sedari tadi menunggu di balik pintu menyembulkan tubuhnya. Penglihatannya fokus menatap kendaraan beroda dua yang baru saja menghilang di balik tikungan dan meninggalkan asapnya saja. Gadis itu tersenyum miris, juga sakit.
‘Hati-hati di jalan. Aku mencintaimu.’
Kalimat itu akhirnya terucap juga. Yang sedari tadi ditahannya terlepas juga. Meski tidak secara langsung di hadapannya, beginipun sudah cukup. Ya, karena dengan begini semuanya tetap aman dan terkendali.
Shilla menutup pintu rumahnya untuk yang kedua kalinya. Membalik badan dengan hati-hati lantas menyandarkan punggungnya pada pintu. Matanya melirik ke langit-langit rumahnya. Lagi-lagi ia menghela napas, entahlah akhir-akhir ini ia sering sekali menghela napas. Jengah. Kapan ini akan segera berakhir, itu yang selalu Shilla tanyakan dalam hati usai menghela napas.
“Ciuman yang manis, hm?”
Suara berat itu menghentikan langkah Shilla ketika melewati ruang tamu, tepat saat kaki kanannya baru saja menapaki anak tangga pertama. Shilla tidak berniat sama sekali menyahut apalagi menoleh untuk sekedar sentuhan hormat pada orang tua. Terlalu lelah untuk hari ini. Menoleh sekali saja, semuanya akan semakin terasa melelahkan.
Di belakang sana, lelaki paruh baya itu memperhatikan lekat-lekat punggung putrinya yang semakin hari semakin tumbuh dewasa. Pandangannya tajam dengan aura hitam di sekitarnya. Mengerikan. Dengan sekali melihat saja, semua orang pun akan bergidik ngeri. Dan orang pun akan tahu darimana Shilla mendapatkan tatapan matanya yang tajam.
“Shilla... Jangan pernah melanggar aturan mainnya.” Ucap sang Ayah dengan kalem, namun menohok.
Shilla tersentak kecil. Jelas sekali maksud dari kalimat ayahnya. Diam-diam Shilla tersenyum kecut. Alih-alih tersenyum, ia mengangguk tanpa menoleh barang seinci pun, terlalu lelah untuk itu, ingat?
Shilla mengerti, dan Shilla tahu.
“Aku tau, Ayah.”
Shilla tahu bahwa ia memang telah jatuh cinta.
***
Mata elang berwarna coklat gelap milik Shilla bergerak gelisah. Sesekali memandang jalan setapak di belakangnya yang kemudian bertumpu lagi pada mobil hitam metalik di depan sana. Entah mengapa ia merasakan rasa takut yang begitu besar saat ini. Terlebih lagi saat ia mendapati beberapa pasang mata memperhatikannya dari dalam mobil itu. Hingga pada akhirnya, fokus mata Shilla tertuju pada tanah yang dipijakinya saat ini, berharap tanah itu menenggelamkannya sekarang juga.
Oh, Waktu bergerak mundurlah, atau... berhenti saja.
SRET
Gelap.
Apa matahari meredup?
Cukup terkejut juga saat mendapati pandangannya mendadak gelap. Sayangnya, itu tak berlangsung lama, karena setelah itu tangan Shilla merambat perlahan ke bagian wajahnya, dan menemukan tangan kekar melingkari matanya. Shilla tersenyum tipis, hampir tak terlihat.
“Alvin?”
Seseorang di belakang Shilla terkekeh, lantas setelahnya mengacak rambut Shilla kemudian merangkul dan menarik Shilla untuk mendekat.
“Kamu tau, ya?” Dia terkekeh lagi, Shilla yang melihatnya hanya tersenyum.
Kini tangan Alvin membingkai wajah cantik Shilla. Tersenyum sebentar, sebelum akhirnya berganti menjadi muram. “Aku... lama, ya? Maaf, ya.”
Shilla terdiam. Matanya lekat memandang wajah Alvin. Merekam tiap inci sosok di hadapannya dengan sangat baik. Takut-takut jika esok tak dapat melihatnya lagi, atau bahkan justru takkan pernah melihatnya lagi, yang berarti ini hari terakhirnya. Bibir Shilla bergetar, alih-alih getaran itu berhenti karena Shilla menggigitnya kuat-kuat. Seandainya Alvin tahu, Shilla amat takut saat ini.
“Hei, Shill—“
GREP
Tangan Alvin membentang lebar begitu juga dengan mulutnya yang menganga. Matanya yang sipit terpaksa membulat —meski hasilnya sia-sia— karena begitu terkejut dengan pelukan Shilla yang tiba-tiba.
Butuh waktu lama untuk saraf-saraf Alvin mencerna apa yang terjadi. Hingga Alvin merasakan pelukan Shilla mengerat, barulah ia dapat menyimpulkan semuanya.
Alvin tersenyum bahagia. Tangannya perlahan ikut melingkar di tubuh Shilla yang tidak lebih tinggi darinya. Mengusap punggung yang terasa begitu rapuh itu dengan lembut. Dalam pelukan ini, tak terlihat namun terasa, mereka menyalurkan perasaan mereka masing-masing. Hangat.
Cinta yang sederhana itu memang benar nyata. Hanya melalui sebuah pelukan ringan, kekuatan cinta itu begitu terasa. Tidak perlu kata-kata romantis jika berikutnya hanyalah omong kosong belaka. Tidak perlu mengikat janji jika berujung dengan pengingkaran dan air mata. Juga tidak perlu benda pengikat jika pada akhirnya menggores luka. Cinta tidak perlu sesuatu yang berlebihan. Ketulusan dan kesederhanaanlah yang membuat cinta menjadi sesuatu yang terlihat ‘LEBIH’.
Begitu juga halnya dengan Alvin. Cinta Alvin hanya memerlukan balasan dari Shilla, bukan kata-kata yang omong kosong, janji yang palsu, apalagi benda pengikat yang justru menyiksa. Karena bagi Alvin, aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Aku tulus, kamu pun tulus. Aku menerimamu dan kamu menerimaku. Sederhana.
Dalam dekapan Alvin, kaki Shilla gemetar, itulah mengapa ia mengeratkan pelukannya. Shilla terlalu peka, hingga makhluk hidup di belakang sana yang berjalan mendekat pun Shilla merasakannya.
SRET
BUGH
DUAGHH
Dua pria bertopeng dengan tubuh kekar menarik Shilla dari pelukan Alvin. Alvin yang melihatnya seketika merasa marah, ingin menyerang jika saja dua orang lagi tidak menahannya. Dengan beringas, Alvin memberontak. Sayangnya, Alvin jelas melakukan hal yang justru sia-sia, tenaga Alvin berbanding jauh dengan dua orang pria tersebut.
Sementara itu, Shilla justru terlihat pasrah-pasrah saja ketika tubuhnya diseret paksa dua pria yang sejujurnya, Shilla mengenalnya. Ia tahu ini akan terjadi. Dan inilah hal yang benar-benar membuat Shilla merasa takut sedari tadi.
Shilla menoleh cepat ketika mendengar Alvin meneriaki namanya berkali-kali. Wajah Alvin sudah babak belur dengan memar di ujung bibirnya dan luka berdarah di pelipisnya. Tubuh Shilla semakin bergetar, nuraninya memerintah kaki Shilla untuk berbalik dan menghampiri Alvin. Baru saja ingin melangkah, Shilla harus ditarik paksa lagi untuk masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Alvin yang masih ditangani —Disiksa lebih tepatnya— oleh dua pria kekar. Shilla yakin itu... Bodyguard ayahnya.
Di dalam mobil, dua lelaki yang menangani Shilla itu menghempaskan tubuh Shilla ke jok belakang dengan kasar. Shilla mendengus begitu terhempas. Dan baru saja hendak mengeluarkan protes, mulut Shilla bungkam begitu saja ketika dihujami tatapan beraura hitam menyeramkan dari Ayahnya yang duduk di sebelahnya.
Shilla akhirnya memalingkan wajah menjadi menghadap jendela. Hampir saja kaca di samping Shilla pecah jika saja Shilla tidak ingat dimana dan dengan siapa dia sekarang. Bibir Shilla lagi-lagi bergetar melihat pemandangan di luar sana. Tulang belikat Alvin yang dihantam keras dengan siku, perut Alvin yang dihujani kepalan tangan juga tidak lupa wajahnya hingga membuat wajah Alvin bermandikan darah. Puncaknya ketika Alvin memuntahkan darah dan kemudian tak sadarkan diri. Saat itu juga, Shilla ingin melakukan sesuatu, tapi urung.
Tidak boleh! Sudah sejauh ini, dan ini janjinya.
***
Dua lelaki itu masih betah beradu pandangan tajam satu sama lain. Tak sedikitpun beranjak dari posisi mereka yang berdiri di atap sebuah gedung. Salah satu dari mereka mengepalkan tangannya keras, menahan sebuah amarah yang memusat di sana. Sementara yang satu lagi, menggertakkan giginya, menampakkan rahang tegas yang menantang.
Gabriel —sosok yang mengepalkan tangannya— membuang wajah pada akhirnya, napasnya naik-turun akibat menahan amarah juga menahan diri untuk tidak melayangkan kepalan tangan pada wajah di depannya.
“Sivia istriku. Berhentilah mengganggu kami, Riko Jeremy!”
Riko —Lelaki dengan rahang tegas yang menantang—menyeringai. Wajahnya mulai melunak, tidak setegang tadi. Seraya memasukkan kedua tangannya pada saku celananya, ia beranjak pergi. Pergi tanpa peduli dengan Gabriel, Sahabatnya—yang sekarang menjadi musuh terbesarnya— dengan wajah merah padam.
“Jika aku tidak bisa memilikinya, begitu juga denganmu. Ini adil. Aku akan membuat kita tidak ada yang memiliki Sivia. Aku, maupun dirimu, Gabriel Miracle. Tidak ada dan tidak boleh.”
Gabriel menggeram.
“Well, kupikir akan lebih seru lagi melihat putrimu tumbuh dewasa tanpa seorang ibu.”
BUGH
“Ayah?”
Siaran ulang di masa lalu pada benak Gabriel terputus seketika kala sebuah suara mengusik masuk ke dalam telinganya. Gabriel mengusap wajahnya, lantas mengangkat wajahnya untuk sekedar menoleh pada sumber suara. Wajahnya tampak datar, ah lebih tepatnya berpura-pura datar jika diperhatikan lekat. Sosok yang di panggil dengan sebutan Ayah oleh Shilla menegapkan posisi duduknya dengan tenang, seolah tak ada yang membebaninya saat ini. Ah, ternyata kepandaian berpura-pura milik Shilla diturunkan dari ayahnya.
“Apa yang ayah pikirkan?”
“Tidak ada.”
Shilla mengangkat sebelah alisnya, nampak tidak puas dengan jawaban Ayahnya. Sejak kecil, lebih tepatnya sejak Ibunya berpulang, Ayahnyalah yang memegang peran ‘Ayah dan Ibu’ dalam hidupnya. Dan hal ini membuat Shilla sangat mengenal sosok Ayahnya luar dan dalam. Wajar saja jika ia merasa ada yang aneh pada ayahnya.
Baiklah, Shilla menghela napas. Jika dalam situasi seperti ini, lebih baik mengunci mulut untuk tidak bertanya lebih lanjut. Shilla sangat mengenali ayahnya. Ada sesuatu yang tidak bisa dibagi dengannya. Shilla mengerti itu.
“Shilla, kamu mencintainya?”
Gadis bersurai hitam legam yang baru saja mendudukkan diri di samping Ayahnya merespon dengan kebisuan. Matanya memandang ayahnya sebentar, kemudian beralih menatap sosok tak berdaya yang terikat pada kursi di tengah ruangan. Shilla menghirup napas sebanyak-banyaknya, berusaha mengisi kesesakan pada paru-parunya, lantas menghembuskannya dengan kasar.
“Jangan bertanya, Ayah.”
Karena mencintainya atau tidak, semuanya tetap tidak akan berubah. Bukankah begitu aturan mainnya?
***
BUGH
Alvin meringis merasakan nyeri di pipi bagian kirinya. Tubuhnya benar-benar lemas, bahkan ia tidak merasakan adanya energi dalam tubuhnya, yang ada hanyalah rasa sakit dan nyeri di tubuhnya. Jadi, melawan pun Alvin tak bisa jika tubuhnya lemas dengan kondisi seperti sekarang.
“Kenapa Anda mel—“
DUAGH
Kali ini tepat di perutnya, lutut dengan betis berotot di bawahnya menghantam tanpa ampun. Alvin terbatuk-terbatuk dengan napas yang sudah kembang-kempis. Dan ketika terbatuk sekali lagi, Alvin mendapatkan bercak darah pada telapak tangannya. Seolah tidak peduli, Alvin mengangkat wajahnya, menatap lelaki yang nampak duduk tenang di kursinya. Seraya tersenyum, Alvin terbatuk lagi, “Kenapa anda melakukan ini pada saya, Tuan? Uhuk.”
Laki-laki paruh baya itu menyeringai, “Untuk menebus nyawa dengan nyawa.”
BUGH
BUGH
DUAGH
Kini baik pipi kanan maupun pipi kiri Alvin mendapat satu tonjokan Cuma-Cuma yang meninggalkan bekas biru kehitam-hitaman di wajah orientalnya. Belum sampai di situ, karena setelahnya Pria berbadan kekar yang sedari tadi menghajarnya, mencengkeram kerah baju Alvin dengan kuat lalu melemparnya kasar hingga membentur tembok. Ia sempat mendengar sesuatu yang patah sebelum akhirnya rasa sakit melingkup tubuhnya, LAGI.
“Dengar...”
Dengan Susah payah Alvin mendongakkan wajahnya.
“Ayahmu, Riko Jeremy, telah merebut nyawa istriku.”
BUGH
SRET
BRAK
Wajah Alvin telah benar-benar babak belur. Kerah Alvin dicengkeram lagi, dan kemudian di lempar lagi ke pojok ruangan. Lelaki berwajah oriental itu tersungkur dengan darah yang memancar dari sudut bibirnya. Sekujur tubuhnya sudah bermandikan keringat yang telah bercampur menjadi satu dengan darah dari beberapa luka. Tubuhnya benar-benar hanya merasakan rasa sakit yang mendera begitu hebat.
“Berhenti.” Gabriel melipat tangannya di dada, memandang remeh sosok Alvin yang benar-benar mengenaskan. Alih-alih begitu, Gabriel menoleh pada putrinya yang sedari tadi berdiri di sampingnya dengan kaki gemetar.
“Peluk dia.”
Shilla menatap Ayahnya lekat-lekat, sementara yang ditatap bersikap tidak peduli. Kini tubuh Ayahnya sudah menghadap jendela dan membelakangi tubuhnya. Dialihkan pandangannya, seketika Shilla merasa lemas melihat pemandangan ini. Kaki dan bibirnya sudah gemetar sedari tadi.
Kini bibir tak berdosa itu tergigit keras oleh gigi bagian atas, sementara kakinya yang gemetar mencoba melangkah meski terasa berat
Lakukan atau tidak sama sekali.
“A-a-alvin?” dengan bibir gemetar nama Alvin terlontar dari bibir semerah darah milik Shilla.
Alvin dengan sisa tenaganya mengangkat wajahnya guna menatap wajah Shilla. Dan senyum penuh sayang terulas di wajah yang telah babak belur ketika tubuh Shilla mendekap Alvin dengan erat.
“Shilla...”
Pelukan Shilla mengencang sebelum ia berujar lirih, “Maaf.”
“Shilla, apa kamu masih mengingat pertemuan pertama kita?”
Shilla terdiam sebentar, mengangguk pelan dan mengucapkan kata sebelumnya dengan lirih, “Maaf.”
“Saat itu, kita bertemu dalam sebuah insiden kecil. Lucu ya.”
“Maaf.”
“Setelah itu, entah bagaimana bisa kita saling kenal.”
“Maaf.”
“Lalu, aku mencintaimu. Sungguh, itu terlalu ajaib mengingat kita hanya mengalami pendekatan selama 4 bulan. Cinta itu... aneh ya, Shill?”
“Maaf.”
“Dan karena cinta, kita menjadi sepasang kekasih sampai sekarang. Sungguh... sebuah keajaiban ya, Shill?”
Shilla terdiam cukup lama. Karena cinta, kita menjadi sepasang kekasih sampai sekarang? Shilla merasa tertohok mendengarnya. Karena cinta? Shilla tidak mengerti bagian yang mana yang disebut cinta jika Shilla melakukan hal sejauh ini? Ini terlalu fana disebut cinta. Cinta tidak begini. Sungguh! Ini bukanlah cinta.
Dan pada akhirnya, masih kata yang sama yang mampu Shilla ucapkan, “Maaf.”
Alvin merengkuh tubuh gemetar itu lebih dalam. Matanya terpejam, dibaliknya sebuah film masa lalu terputar jelas dalam benaknya. Alvin mengingat kembali saat itu, saat dimana ia dengan ceroboh bertabrakan dengan Shilla di tikungan koridor kampus. Ini terlalu konyol, tapi Alvin menyukainya, ia masih mengingatnya dengan jelas.
Film itu masih saja berputar-putar cepat dan bergantian. Semuanya, kenangannya dengan Shilla, takkan pernah terlupakan, sekalipun Alvin telah tiada nantinya. Karena Alvin... mencintai Shilla. Sederhana.
“Shilla... Aku mencintaimu.”
Nafas Alvin tercekat. Namun, tidak begitu lama, karena setelahnya ia tersenyum tulus. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Aku... bahagia saat—”
DORRR
Alvin masih dengan senyumnya, “—bersamamu.”
“Maaf.”
Tubuh Shilla benar-benar gemetar. Rasa takut, sedih, kecewa, marah dan kehilangan semua berpadu menjadi sebuah guncangan besar dalam hatinya. Memporak-porandakan semuanya hingga ke ulu hati. Dan napasnya terasa sesak, seolah ada palu godam yang menghantam dadanya.
“Aku juga mencintaimu.”
Tangan dengan bercak darah itu melingkar erat di tubuh Alvin. Seolah tak mau sedikitpun kehilangan sosok dalam rengkuhannya.
“Aku juga bahagia saat bersamamu.”
Dan pada akhirnya tubuhnya terduduk lemah, rengkuhannya merenggang. Membuat raga dalam rengkuhan rapuh itu terjatuh tepat di pangkuannya. Pistol dalam genggamannya terjatuh begitu saja.
Lelaki paruh baya yang sedari tadi berdiri menghadap jendela, menatap putrinya dengan cepat. Seulas senyum kemenangan terpatri jelas pada wajah yang mulai terlihat keriput —meski begitu tetap tampan.
“Anak pintar.” Ia menoleh kearah pintu dan menyeringai pada dua bodyguardnya. “Bawa dia ke hadapan Ayahnya. Sekarang!” Lantas setelahnya pergi meninggalkan sang putri yang terkulai lemas.
Suara dentuman itu masih terdengar sangat jelas di telinga Shilla. Pergerakan pelatuk yang ia timbulkan masih terasa sangat nyata di sela-sela jarinya. Tubuh Alvin yang tak berdaya kala merengkuhnya masih terasa hangat dalam hatinya yang kacau. Semuanya... Shilla merasa semuanya masih melingkupi hidupnya. Alvin dengan senyumnya, perhatiannya, kasih sayangnya dan tentunya... cintanya.
Shilla mendongakkan wajahnya. Menatap langit-langit ruangan yang terasa ingin runtuh di matanya, seolah siap menimpa tubuhnya kapanpun itu. Senyum yang terlihat miris itu terkulum. Dalam manik coklat gelapnya, ia melihat Ibunya yang tengah tersenyum pada dirinya di masa lalu. Mengusap lembut rambutnya yang menguarkan aroma strawberry khas anak-anak.
“Setelah ini, Shilla harus patuh pada Ayah. Mengerti?”
Kedua mata itu terpejam keras-keras, menimbulkan kerutan yang terlihat menyimpan sejuta rasa sakit di sana. Sementara suara lembut Ibunya menggema terus-menerus dalam telinganya.
Dia melakukan hal yang benar, bukan? Patuh pada Ayahnya, sekalipun diperintah untuk bunuh diri, tetap harus melakukannya. Begitu, kan? Sekarang ia benar-benar telah mematuhi keinginan Ayahnya dan mengenyahkan hasrat untuk menolak.
Matanya Shilla terbuka setelah terpejam cukup lama, menatap nanar pada pistol yang tergeletak di atas marmer putih dengan bercak darah menempel disana.
Tugasnya telah selesai.
TES
SRET
Setetes air mata lolos begitu saja dari mata Shilla, dengan cepat melintas diatas pipinya. Dan secepat itu juga, Shilla menyekanya kasar. Jangan pernah menjadi gadis cengeng, perintah Ayahnya benar-benar melekat dalam otaknya. Shilla benar-benar tumbuh menjadi gadis yang pantang dengan air mata.
Sekalipun ingin menangis, Shilla akan menangis dalam hati.
***
“Alvin Jeremy sungguhan meninggal?”
“Ini tidak dapat dipercaya.”
“Pemakamannya dilaksanakan kemarin.”
“Hiks. Aku ingin menangis.”
Suara-suara itu masih berlanjut pada topik yang sama. Kematian putra tunggal Tuan Jeremy benar-benar menjadi obrolan hangat di kampus pagi itu. Berita itu tersebar hingga ke setiap penjuru kampus, semua orang membicarakannya. Dan pagi itu, suasana kampus kelam, dirundung duka.
Mungkin, hanya ada seorang gadis yang tak membahas apapun tentang kematian Putra Tuan Jeremy yang terhormat itu. Dia lebih mengasingkan diri dibalik buku setebal 3 cm sejak pagi tadi. Sayangnya, tak ada yang tahu bahwa telinganya mendengarkan dengan serius apapun yang tertangkap telinganya. Dia tak hanya membaca, tapi juga mencuri dengar, seandainya mereka tahu.
Tidak terasa buku yang ia baca telah selesai. Gadis itu menghela napas, lantas matanya beralih menatap arlojinya. Sudah waktunya pergi. Ia menutup bukunya, nampaknya besok dia harus meminjam buku yang baru.
Gadis itu mulai berdiri, mengakhiri kegiatan membacanya juga mencuri dengarnya.
Ini sama seperti membaca buku. Jika telah sampai di lembar terakhir, sejatinya kita akan menggantinya dengan buku lain dan membuka lembar baru. Sama seperti kisah ini, ketika kisah ini telah mencapai lembar terakhir, membuka lembar baru sesungguhnya lebih baik. Jangan lagi menoleh ke belakang, karena tujuan kita adalah kedepan.
Shilla menghembuskan napas dengan kasar bersamaan dengan rasa sakit yang berusaha ia enyahkan.
Kisah ini telah berakhir.
***
KLIK
Televisi flat itu menampakkan layar yang kian menghitam. Ray melirik teman-teman disampingnya. Keningnya mengkerut mendapati keadaan teman-temannya yang terlihat mengenaskan di matanya.
“Kalian nangis?”
Keke, temannya yang tengah mengelap lubang hidungnya dengan tissue menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada kegiatannya mengelap hidung. “Ini sedih, Ray.”
Ray mencibir pada Keke. Menurutnya ini berlebihan.
“Apalagi waktu scene Shilla nembak Alvin pas Alvin bilang ‘Aku mencintaimu’. Itu nyesek, Ray.” Acha, dengan mata memerah menyahut tanpa menoleh seraya merapikan tempat DVD yang terlihat berantakan.
Ray melongo, kini di tatapinya Ozy, temannya yang nampak kalem dengan gadgetnya.
“Elo juga nangis, Zy?”
“Enggak.”
Ray menghembuskan napas lega, setidaknya masih ada temannya yang tidak menjijikkan dan berlebihan —menurutnya.
“Tapi gua tersentuh sama tokoh Alvin Jeremy-nya.”
Apa? Ray melongo setelah mendengus dan mencibir. Ternyata Ozy sama saja.
“Gue mau ke toilet dulu.”
Semuanya menggangguk acuh, tampak tidak peduli dengan Ray. Apapun yang akan Ray lakukan dirumahnya sendiri, itu bukan suatu masalah bagi mereka. Lain lagi jika ini bukan rumah Ray, Ozy pasti akan mengekori Ray. Bersahabat dengan Ray membuat mereka mengenal Ray yang tidak bisa diam.
Izin ke toilet tentu saja alibinya untuk menutupi sesuatu. Ia merasa aneh dengan dirinya. Sejujurnya, sejak ia mematikan Televisi di kamarnya, ia sudah merasa matanya memanas. Awalnya, ia kira itu bukan apa-apa. Sampai pada akhirnya, matanya yang memanas kian memburam oleh sesuatu yang menggenang di pelupuk matanya. Ray merasa risih dengan matanya.
TES
“AISH! KENAPA GUE JUGA NANGIS?!”
***
THE END
19.06 | Label: Cerpen KKP | 0 Comments
#Cerpen "Teror Sang Hantu"
TEROR SANG
HANTU
(Laras Mumtaz - X MIA 3)
“Teng
teng teng!”
Dentuman
jam berbunyi, pertanda tengah malam. Aku pun terbangun dengan suara dentuman
itu. Lalu aku teringat akan buku tugas yang harus ku kumpulkan besok. Kemudianaku
beranjak dari tempat tidur.Dan saat ku menyalakan lampu, ternyata lampunya
tidak menyala.Aku teringat bahwa pulsa listrik rumah sedang habis.Orang tua ku
lupa mengisinya.Terpaksa aku mengerjakan buku tugas dengan sebatas cahaya
lilin.Ku kerjakan buku tugas itu dengan teliti dan penuh hati-hati.
Aku
sendirian dirumah.Kebetulan orang rumah sedang tidak ada. Ayah kerja lembur,
ibu ada keperluan di Surabaya, adik dirumah nenek, kakak kuliah jadi tinggal
ngekos. Sendirian dirumah itu bagaikan tinggal di dunia kegelapan. Sepi gelap,
dan hening hanya terdengar suara angin yang tertiup melewati jendela
kamar.Karena dingin, kuputuskan saja tuk menutup jendelanya.Anehnya, padahal
sudah ku tutup jendelanya dengan rapat namun seperti ada semilir angin yang
melewati leher ku.Aku pun jadi merinding.Hal itu tak ku pedulikan, aku terus
mengerjakan buku tugas dengan serius.
Beberapa
menit kemudian.Ada satu soal yang tidak ku mengerti jadi kuputuskan mencari
buku di perpusatakaan.Perpustakaan terletak diruang bawah tanah.Rumah ini
sangat besar, Jarak dari kamar ke perpustakaan lumayan jauh.Jalanannya pun seperti
lorong.Karena baru pindah tiga hari yang lalu, aku belum terlalu hafal
letak-letak ruangannya ditambah lagi gelap gulita.Jadi aku harus mencarinya di
setiap sudut ruangan.Ku ganti lilin ku dengan lampu petromax.aku melangkah
dengan hati takut.
Saat
melewati lorong yang menghubungkan kamar dengan ruangan lain, aku melihat
sesosok bayangan perempuan berambut panjang yang sedang berdiri di depan
jendelasambil menyanyikan lagu sinden jepang. Bayangannya terlihat diterangi
rembulan. Aneh padahal kan tidak ada orang sama sekali. Ku coba tuk
mendekatinya.
“Siapa
disana?”.Tanyaku pada sosok bayangan itu.
Tak
ada jawaban.Ku coba menghapirinya lebih dekat.ku arahkan cahayalampu ke
wajahnya. Aku terkaget, seluruh wajahnyapucat danpenuh dengan darah.aku melongo
kaget tanpa berkata apapun, Aku langsung lari menuju kamar. namun aku tidak
menemukan kamar ku. Entah kemana aku lari tiba-tiba aku sudah ada di ruang
bawah tanah rumah ini.
“Tadi
itu beneran apa nggak ya? Mungkin aku salah liat.”Kata ku dalam hati.Kejadian
tadi langsung kulupakan begitu saja.Ada satu ruangan di bawah tanah ini yaitu
perpustakaan.Dari luar terlihat seperti dua ruangan.Ketika ku masuki, hanyalah
sebuah ruangan yang tidak terlalu besar.
Perpustakaannya
masih kotor dan berdebu.Pembantu ku juga belum sempat membersihkannya.Ku
melihat-lihat sekitar perpustakaan sambil membaca buku-buku yang ada
disitu.Gelap sekali sungguh menyeramkan.Kebetulan sekali aku sedang membutuhkan
buku pelajaran.Ku lihat-lihat sekeliling perustakaan sambil mencari buku yang
kubutuhkan.Buku di perpustakaan ini cukup lengkap.Ada satu buku yang membuatku
tertarik.Terletak di sisi paling pojok rak buku.Hanya buku itu yang terlihat
paling kotor.Sepertinya sudah lama sekali buku itu ada dan tidak pernah
dibersihkan, disentuh pun tidak pernah terlihat sangat usang.
Ada sebuah rantai
yang mengelilinginya dan gembok yang menggantung di rantainya.Sepertinya sudah
ada yang pernah membukanya.Gemboknya sudah tidak terkunci.
“Fufufu…Yang
benar saja?!Ini bukan dunia Harry Potter kan. Kayak buku terlarang aja pake di
gembok segala”. Gumam ku dalam hati.
Tidak
ada judul sama sekali disampul depan buku itu. Ku buka buku itu
perlahan.Ternyata hanya catatan diary seseorang.Halaman pertama terdapat foto
keluarga pemilik buku itu, namun hanya bagian wajah yang diburamkan. Halaman
kedua tertulis,
Dear diary
Hari ini aku pindah kerumah baru
ku.Rumah yang lebih besar dari rumah sebelumnya.Dengan berbagai ruangan yang
besar dan mewah.Tamannya pun luas dan banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman
hias. Ada perpustakaannya pula aku senang sekali berada disitu….
Di
halaman kedua buku itu tertempel sebuah foto. Aku sangat kaget ketika melihat
foto rumah yang samapersis dengan rumah yang kutempati sekarang.
“jangan-jangan
ini diary milik orang pertama yang menempati rumah ini” pikirku.Kulanjutkan
membaca.
Dear diary
Hari yang
cerah seperti biasa,kusambut pagi dengan senyuman.Ini adalah hari pertama aku
masuk SMAberangkat sekolah pagi-pagi dan pulang di sore hari.Aku mengikuti
sejumlah ekstrakulikuler, salah satunya paduan suara, kegiatan eksul ini
berlangsung sepulang sekolah.sepulang dari ekskul aku langsung pulang dan
mengerjakan tugas-tugas…..
Dear diary
Hari ini aku berkenalan dengan
teman baru.dia teman sekelas ku. Rasanya aku jatuh cinta kepadanya, dia sangat
ramah dan baik hati….
Dear diary
Seminggu setelah berkenalan
dengannya, dia menyatakan cintanya kepadaku, aku pun menerima cintanya dengan
senang hati….
Dihalaman
ini terdapat dua yang sedang berfoto, tapi anehnya disetiap foto ini hanya bagian
wajah saja yang selalu diburamkan.Ku lanjutkan membaca halaman selanjutnya.
13 Maret 1866
Dear diary
Hari ini aku senang sekali karena
hari aku berulang tahun yang ke 16, aku merayakan ultah ku bersama teman-teman
dan kekasihku….
Dear diary
Sebulan berlalu, aku berpacaran
dengan lelaki itu, hubungan kami sudah semakin akrab hingga kami melakukan
hal yang lebih jauh…
Dear diary
Aku
hamil.Aku sudah menceritakan ini pada lelaki itu. Dia tidak mau
mempertanggung jawabkan perbuantannya
dan malah meminta ku untuk menggugurkan kandungan ku tapi aku menolaknya. Aku
tidak mau mengugurkan janin ini itu sama saja aku membunuh janin yang tidak
berdosa ini, semenjak itu aku selalu bertengkar dengannya dan aku memutuskan
untuk putus dengannya, aku sangat kecewa dengannya....
Dear diary
Aku terus menyembunyikan
kehamilanku. Hingga akhirnya orang tuaku menyadari kehamilanku saat melihat ku
membeli test pack, semenjak mereka tahu kehamilanku mereka selalu bertengkar
setiap hari dan mengolok-olok ku. Ibu ku yang sangat peduli padaku hanya diam
saja.Aku benci rumah aku ingin pergi ….
Dear diary
Tidak
hanya orangtuaku saja yang tahu, teman-teman sekolah ku juga entah dari mana
mereka tahu berita itu, mereka selalu membully ku. Aku selalu sendiri, aku
butuh mereka disampingku, hingga akhirnya kepala sekolah mengeluarkanku dari
sekolah….
Dear diary
aku terus megurung diri di kamar…
17 Juni 1866
Dear diary
Aku tidak kuat menahan ini semua,
aku ingin mengakhiri hidup ku…
18 Juni 1866
JAM 00.00
DEAR DIARY
TINTA HITAM PENA KU
TELAH HABIS MENGISI BUKU HARIAN INI, AKU MATI BUNUH DIRI DENGAN MEROBEK LEHER
KU DAN KUJADIKAN DARAH INI SEBAGAI TINTA. DENGAN SISA TENAGA TERAKHIR, KU
GANTUNG DIRIKU DI TEMPAT INI BERSAMA BAYIKU YANG MASIH DALAM KANDUNGAN…
Bulu
kudukku merinding ketika membaca halaman terakhir ini.
Tes..tes..
tess…
Tetesan
darah mengenai buku itu.Ku tengok ke atas. Ada seorang mayat gadis
perempuan yang mati gantung diri. Aku
melongo dan setengah tidak percaya.Dia ada disini.Kulihat lagi keatas tapi dia
sudah tidak ada.
“untung
cuma perasaan ku” kata ku sambil menghela nafas.
Tiba-tiba
ada angin bertiup kencang hingga membuka halaman paling akhir buku harian itu.
Aneh padahal kantidak ada ventilasi maupun jendela di bawah tanah ini. Lalu Ku
baca hal terakhir itu.
18 september 2014
TOOOLLLOOOOOOOOONNNGGGGGG AAAAAKUUUUUUU!!!!!!!!
Aku
terkejut melihat tanggal yang dicantumkan dalam tulisan itu adalah dini hari
masa sekarang.
“kapan
dia menulisnya?” gumam ku dalam hati.
Tiba-tiba
ada seorang perempuan rambut panjang yang duduk di depanku sambil menggendong
seorang bayi. Dia menangis sambil bernyanyi, menyanyikan lagi nina bobo.
Kepalanya terus tertunduk, wajahnya tertutup rambut panjangnya.
“kenapa
kau disini? Seharusnya tempat mu bukan disini!!” Tanya ku padanya. Dia tertawa
layaknya hantu “hi..hii hi hi…”. Tawa kemenangan.
Aku
langsung berpikir. “Ini pasti bukan diary biasa, kalo saja hanya diary biasa
tidak mungkin sampai ada rantai dan gembok sebagai segel, pasti dulu ada
seseorang memasangnya. Aku sudah salah mengira aku kira cuma segel biasa ”. Ku
buka halaman sebelumnya tertulis nama dan foto korban yang dia bunuh, termasuk
aku. “cih, sial aku dijebak!”.
Aku
bertanya pada hantu itu “untuk apa kau melakukan semua ini?”.Dia menjawabnya
dalam buku itu.
UNTUK
BALAS DENDAM…..
Dia
langsung menerkam bahuku, menukar roh ku dan Merasuki tubuhku.menjadi layaknya
diriku, menjalani segala kehidupan manusia di dunia nyata.Sedangkan akuterbang
kesana kemari seperti hantu.
07.05 | Label: Cerpen KKP | 0 Comments
#Cerpen "Cause I'm Your Friend"
Cause I’m Your Friend (Fieranty)
(Fieranty Berliana P - X MIA 3)
Cahaya mentari memasuki jendela kamar, membangunkan fei dari tidur malamnya yang singkat. Dengan malas fei membuka mata sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal karena semalaman mengerjakan semua tugas sekolahnya yang pagi ini harus segera dikumpulkan.
Berdiri menunggu bus dikeramaian pagi dengan kesibukan masyarakat yang padat dengan jadwalnya sendiri begitu membosankan. Setelah kurang lebih 5 menit menunggu akhirnya bus pun tiba, fei segera memasuki bus dan mencari tempat duduk yang kosong. Duduklah fei dikursi kosong, bersebelahan dengan seorang lelaki berseragam SMA seperti yang fei kenakan namun fei tidak memperdulikan seseorang disebelahnya. ”Hey” panggilnya sambil menyiku lengan fei. Dengan heran fei menoleh, “Ya?” “Sepertinya kita satu sekolah ya.” Tanyanya sambil memperhatikan seragam yang mereka kenakan. “Ada apa?” Tanya fei pada orang asing itu. Baginya semua orang yang tidak ia kenal adalah orang asing. “Apa kau anak kelas sebelas? Sepertinya aku sering melihatmu.”
Mencoba mengabaikan orang asing yang mencoba baik mungkin bukan hal bagus. “Atau kau kelas dua belas?” tanyanya lagi. Fei tidak begitu memperhatikannya sehingga tidak menjawab pertanyaannya. “Sebelas.” Jawab fei singkat namun mencoba seramah mungkin. Karena ia tau tidak baik bersikap dingin kepada orang –yang mungkin bisa dibilang teman satu sekolahnya- yang sudah mencoba menyapa dan bersikap baik padanya. “Sepertinya aku belum pernah melihatnya” batin fei.
Hari ini pembagian kelas pada awal tahun ajaran baru. Setelah mengetahui pada kelas apa murid akan mencari kegilaan, ditujulah kelasnya masing-masing. Sambil memasuki kelas, fei melihat sekeliling dan sepertinya wajah itu tak asing lagi bagi fei. “Hey apa itu lelaki dibus tadi? Aku sekelas dengannya?” tanyanya pada dirinya sendiri sambil mencari kursi kosong. Lelaki itu menyadari kehadiran fei dan duduklah ia dikursi kosong depan fei. “Ryan” ucapnya sambil memberikan tangannya. Fei hanya memperhatikannya dengan bingung. “Nama?” katanya lagi. “Fei” jawab fei tanpa membalas tangan ryan. Ryan hanya tersenyum sambil melihat tangannya sendiri kemudian kembali melihat fei yang sepertinya tidak terlalu tertarik untuk berbicara.
Tak lama, bel dimulainya pelajaran pun berbunyi. Setiap walikelas memasuki kelas untuk mengontrol kelas barunya. Seperti kelas baru pada umumnya, adanya pemilihan kepengurusan kelas. Kali ini sang walikelaslah yang menentukan setiap pengurusnya. Tanpa diduga fei terpilih sebagai ketua kelas. Mengetahui hal itu fei hanya bisa menghela nafas. Menjadi ketua kelas dengan tanggung jawab yang besar bukanlah hal mudah, itulah yang ada dipikiran fei. Tapi fei harus melaksanakan kewajibannya itu dengan ringan hati.
Waktu berlalu begitu cepat, semester akhir pun hampir berakhir. Sekolah akan mengadakan berbagai acara untuk mengisi waktu luang dan refreshing setelah ujian. Setiap kelas sibuk untuk mempersiapkan berbagai lomba dan acara yang akan diikuti, dan diwajibkan mendaftar terlebih dulu pada link website yang telah ditentukan.
Mungkin dalam hal itu bukan fei lah ahlinya. Sebagai ketua kelas ia diharus mengatur semuanya, sedangkan pengurus lain hanya menunggu fei bertindak. “Apa kalian tidak punya ide untuk semua lomba itu? Terutama lomba membuat film pendek. Itu bukan hal mudah.” Tanya fei mencoba menahan panasnya emosi pada dirinya. “Entahlah.” Jawab salah satu pengurus kelas seperti tidak peduli. ‘”Kau kan ketua kelas, harusnya memberi masukan untuk kelancaran semua ini. Kami kan hanya menjalankan tugas.” Jawab yang lainnya. “Ayolah, kita sudah dikejar waktu.” Fei mulai merasa gila dengan acara semacam ini, terutama dengan para pengurus yang tidak membantu sama sekali.
Fei berjalan dikoridor sekolah dengan tatapan kosong. Memikirkan bagaimana kelancaran acara yang akan diikuti kelasnya, sedangkan ia tidak punya banyak ide untuk semua itu. Ryan yang berjalan tak jauh dibelakang mencoba menghampirinya. Namun fei sepertinya sedang melamun sampai tak menyadari ryan berjalan disampingnya sambil memperhatikannya dengan bingung. “Fei ada apa?” namun fei hanya diam sambil terus berjalan.
Berjalannya waktu membuat ryan bukanlah orang asing lagi bagi fei. Terkadang ryan lah yang membantu fei dalam mengurus kelasnya. Namun akhir-akhir ini fei lebih diam dari biasanya. Fei menoleh dan terkejut ada ryan yang berjalan disampingnya, “Sejak kapan?” tanyanya bingung. “Cukup lama.” Jawab ryan sambil memasukan tangan kesaku celana. “Ada apa fei?” Ryan mulai bertanya serius, menatap dalam mata fei seakan mata mereka berbicara. Ryan tau pasti fei sedang ada masalah, namun seperti biasa ia tidak mau menceritakannya begitu saja.
Satu hari menjelang acara, namun persiapan kelas fei belum sampai lima puluh persen. Satu kelas begitu sibuk dengan persiapan acara dan fei teringat sesuatu, “Astaga aku baru ingat. Apa kelas kita sudah mendaftar pada link yang sudah ditentukan itu?” Tanya fei kepada kez, wakil ketua kelas. “Apa? Bukannya kau yang mendaftarkannya?” Kez malah berbalik tanya dan terlihat panik. “Aku kira kau akan mendaftarkannya.” Fei mencoba tenang walau sebenarnya ia mulai merasa kesal. “Memangnya aku pernah bilang akan mendaftarkannya? Tidak. Kenapa kau malah tidak mendaftarkannya?” kez pun mulai panas. “Untuk apa kita sia-sia mempersiapkan semua ini kalau tidak terdaftar sebagai peserta lomba?” Nada bicara feipun makin seperti membentak fei. Rasanya ingin sekali fei marah tapi mulut fei seperti terkunci, suaranya seperti hilang begitu saja. Fei hanya bisa diam, teman satu kelas pun mulai mengerumuni mereka berdua.
“Jadi kelas kita belum terdaftar sebagai peserta?” celetuk salah satu murid. “Belumlah, siapa yang sudah mendaftarkannya? Tidak ada yang mendaftarkan kelas kita.” Jawab kez begitu saja. Suasana kelas pun menjadi semakin panas. Fei hanya bisa menunduk, sebenarnya ia ingin sekali menjawab tapi badannya terasa kaku. Tidak pernah ia dihakimi semacam ini. “Jadi buat apa kita susah payah menyiapkan ini semua?” Tanya murid yang lainnya. Semua murid sudah merasa lelah termasuk fei yang berkali-kali lipat lelahnya. Semua murid hanya saling berbisik-bisik. “Jadi gimana fei? Jangan diem aja!”
Ryan dan beberapa murid yang lain baru saja selesai membuat film pendek untuk perlombaan. Para pemeran dalam film pendek itu sedang sedang beristirahat dikantin. Tiba-tiba saja terlintas fei dalam fikiran ryan. Dan ia teringat sesuatu, fei tidak sedang baik-baik saja. Ryan memutuskan kembali kekelas untuk melihat fei dan yang lainnya menyiapkan lomba apa saja yang akan mereka ikuti. Tidak jauh dari kelas terdengar suara ricuh, perasaan ryan pun mulai tidak enak. “Apa ada yang tidak beres?” pikirnya. Tiba didepan kelas, ternyata benar suara itu berasal dari kelas fei. Murid-murid berkumpul seperti sedang mengerumuni seseorang. “Hey ada apa ini?” teriak ryan namun suaranya tidak sebanding denga suara ricuh kelas. Ryan mencoba menerobos kerumunan teman kelasnya itu dan dilihatnya fei yang tertunduk, badannya seperti gemetar. “Ada apa fei?” batin ryan. Tanpa banyak bicara, ditarik lah fei menjauhi kerumunan itu. Ryan mencoba membawa fei ketempat yang lebih tenang, taman belakang sekolah. Fei tidak menangis tapi badannya gemetar seperti sedang menahan tangis, fei terus saja menunduk tidak mau menatap ryan sedikitpu. Rambut panjangnya yang terurai tertiup angin, menampakan wajahnya yang terlihat seperti takut atau mungkin seperti merasa bersalah.
“Fei?” ryan mencoba menenangkan fei yang masih terlihat tertekan. “Fei, kau baik-baik saja?” ditanya seperti itu bukannya menjawab, malah suara isak tangis yang terdengar. Fei menangis sejadi-jadinya. Ingin sekali fei menceritakan semua masalahnya, tapi rasanya begitu sulit. Hatinya terasa begitu sakit. Semua usahanya terasa sia-sia, semua perjuangannya hilang begitu saja. Mengatur semua itu sendirian dan tidak dihargai sama sekali.
Fei tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Ia hanya bisa menangis meluapkan emosinya. Ryan mencoba menenangkannya. Dibawalah fei dalam pelukannya, meluapkan segala emosi dan masalah yang ia hadapi sendirian. Hanya suara tangis yang terdengar, air mata fei jatuh begitu saja. Rasanya seperti satu persatu masalahpun pergi, namun sebenarnya masalah fei belum berakhir. Fei mencoba menenangkan dirinya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Setelah fei merasa lebih tenang, ryan melepaskan pelukannya, memegang pundak fei dan menatap matanya dalam. “Fei, lihat kesini! Jangan pernah hadapi masalah sendirian! Jangan lagi! Disini ada aku, aku siap dengerin semua masalah kamu. Kita teman kan, fei?” fei hanya menghela nafas mendengar itu. Fei mencoba tersenyum melawan semua emosinya, ternyata dia tidaklah lagi sendirian. “Terima kasih.”
04.25 | Label: Cerpen KKP | 0 Comments
#Cerpen "Merpati Putih"
MERPATI PUTIH
(Lina Fadhila - XI IIS 1)
Ini adalah hari pertamaku duduk dibangku SMA kelas 1. Sebelum aku lulus SMP, aku selalu berfikir bahwa masa-masa SMA adalah msa yang sagat menyenangkan. Namun, semua itu hanyalah cerita belaka yang hanya dapat saya dengar dari pengalaman orang lain tanpa aku sempat merasakannya.
Aku tidak lagi dapat merasakan indahnya dan cerianya masa-masa remaja, aku bahkan tidak dapat melanjutkan sekolahku, aku juga tidak dapat meraih cita-cita yang telahku bangun sejak aku kecil. Kini aku hanya memiliki kehidupan yang antah barantah, aku tak punya pekerjaan yang layak. Bahkan aku malu dengan pekerjaan yang aku lakukan saat ini, semua ini berawal dari seorang teman yang aku temui melalui jejaring sosial.
Wanita berhati busuk itulah yang telah menjebakku dalam pekerjaan hina ini, aku bukanlah wanita suci sesuci wanita lainnya, kini aku adalah wanita yang telah ternodai oleh noda yang amat sangat memalukan. Terkadang ingin sekali rasanya memutar ulang waktu dimana aku masih seorang gadis yang polos dan masih dalam keadaan suci, andai aku tidak mudah percaya pada wanita busuk itu dan andai aku tidak mudah tergiur oleh tawaran pekerjaan dengan isu gaji yang besar, mungkin saat ini aku masih duduk dibangku SMA kelas XI. Dan aku mungkin masih memiliki masa depan yang cerah, serta aku dapat meraih cita-cita yang telahku bangun sejak aku masih kecil.
Kini aku tak punya penghidupan yang damai, hati kecil ku selalu berkata bahwa aku harus keluar dari pekerjaan hina ini, namun rasa takut dan khawatirlah yang selalu menghalangiku untuk keluar dari dunia hitam ini. Setiap aku melihat gadis-gadis yang masih menggunakan seragam SMA dan tertawa bersama teman sebayanya membuat aku iri kepada setiap gadis yang bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Aku juga iri kepada gadis-gadis yang masih suci dan gadis yang dapat meraih cita-citanya.
Namun, rasa iriku tidak akan pernah dapat mengembalikan kesucianku sedia kala, harga diriku telah hilang dan direbut oleh ribuan lelaki hidung belang. Aku tak dapat memiliki kesempatan untuk merasakan indahnya masa SMA dan belajar dibangku SMA hingga lulus. Pendidikanku putus ditengah jalan. Bahkan aku malu dengan saudara-saudaraku yang saat ini masih dapat melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.
Aku iri…. Iri…. Dan amat sangat iri…. Namun, rasa iriku tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu dan tidak akan pernah bisa mengembalikan kesucianku sedia kala.
Aku hanya bisa meratapi nasib dan tidak dapat berbuat apa-apa, aku lelah dengan kehidupanku saat ini. Aku lelah dengan semua ini. Tuhan, betapa beratnya cobaan yang engkau berikan padaku? Mengapa engkau berikan cobaan yang begitu berat padaku? Mengapa Tuhan? Mengapa?
Saat pembagian ijazah..
“yeeeyy…. Aku lulus…”
“wah selamat yah Azizah,kamu lulus dan nilaimu juga bagus. Aku jadi iri dengan prestasi yang engkau raih”
“aahh bukan apa-apa kok, ilmuku masih belum seberapa disbanding denganmu”
Jawab azizah sambil tersenyum ceria kepada sahabatnya Naila.
“yasudah aku pulang duluan ya, aku ingin memberitahukan tentang berita ini kepada orang tuaku”
Pamit Naila sambil menunjuk ijazahnya dihadapan Azizah.
“yasudah, kamu hati-hati di jalan ya Nai”
“iya Zah, bye..”
“bye…”
Saat Azizah ingin pulang kerumahnya ia teringat sebuah berita yang ia dengar dari tetangganya bahwa biaya masuk SMA lebih mahal dari pada biaya masuk SMP, namu Azizah tepis berita tersebut dengan tetap optimis dan selalu berusaha. Saat di jalan Azizah bertemu seorang wanita yang sedang menggendong seorang bayi, ia melihat wajah wanita itu terlihat panic dan ketakutan, lalu Azizah memberanikan diri untuk menghampiri wanita tersebut.
“Permisi bu.. anu..hhmm..itu ibu kenapa terlihat panik?”
Tanya Azizah yang gugup untuk bertanya.
“Ini nak, anak ibu sakit tapi ibu gak punya uang untuk pergi ke dokter, ibu bingung pengobatan jaman sekarang mahal sekali nak. Ibu gak punya biaya buat pengobatan anak ibu ke doketer”
Seketika Azizah tertegun mendengar cerita dari wanita itu, ia merasa iba namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain memanjatkan doa untuk kesembuhan anak dari wanita itu.
“Maaf ibu, memangnya ayah dari anak ibu kemana?kok gak ada?”
“ kami bercerai nak 2 hari setelah melahirkan”
Azizah semakin merasa tidak enak hati dengan ibu beranak satu itu, dengan hati yang keberatan Azizah memutuskan untuk diam dan pamit pulang.
“Maaf ibu jika pertanyaan saya lancang. Mohon maaf juga bu, saya harus pamit pulang karena sudah sore, saya khawatir orang tua saya mencari-cari saya”
“oh iya baik nak, kamu hati-hati dijalan ya nak”
“baik bu, terimakasih”
Dengan sigap Azizah segera pergi meninggalkan wanita tersebut di tengah keramaian kota.
Sambil berjalan, Azizah memikirkan seorang ibu yang baru saja ia temui dipinggir jalan. Ia merasa iba kepada kesulitan yang dialami oleh wanita itu, dengan melihat masalah tersebut Azizah semakin bertekad untuk menggapai cita-citanya. Namun saat ia bertekad untuk menggapai cita-citanya sebuah suara membisikkan ketelinganya dan berkata “mana mungkin kamu bisa menggapai cita-citamu, kamu saja bukan dari orang yang berada dan orang tuamu juga mana mungkin dapat membiayai uang sekolahmu hingga engkau kuliah, mungkin nasibmu dimasa depan sama persis yang di alami ibu tersebut”
Kalimat itulah yang selalu menghantui dirinya, kalimat itu juga yang membuat semangatnya selalu menurun.
***
Disuatu malam, Azizah sedang duduk santai di sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Sambil melihat indahnya rembulan ia mengingat wanita yang ia temui dua hari yang lalu, rasa ingin menggapai cita-citanya selalu ada dalam hatinya yang paling dalam. Saat itu sedang memikirkan nasib wanita itu, seketika kalimat itu kembali menghantuinya. Sambil menutup telinganya Azizah berteriak bahwa “itu semua hanyalah omong kosong, aku pasti dapat meraih cita-citaku”
Saat kalimat itu pergi dan tak terdengar lagi oleh kedua telinga Azizah, ia segera berlari kerumahnya untuk menemui ibunya. Saat ia sampai dirumah, ia mendapati ibunya sedang menjahit tas sekolah Azizah yang sudah penuh dengan jahitan tangan ibunya karena jebol. Dengan perasaan khawatir yang menghantuinya, Azizah memberanikan diri untuk duduk berhadapan dengan ibunya. Sang ibupun menghentikan kegiatan menjahitnya dan melemparkan senyum termanisnya kepada sang anak.
“Kamu kenapa nak? Kok sepertinya ada satu hal yang sedang kamu fikirkan?”
Hening….
Azizah bingung ingin memulai pertanyaannya darimaha, ia khawatir akan membuat ibunya semakin kebingungan.
Azizah adalah seorang gadis yang baru saja duduk di bangku SMA kelas 1, ia dilahirkan oleh sebuah keluarga yang serba kekurangan. Sering sekali kendala yang ia dapatkan saat ia ingin belajar, ingin rasanya meminta uang kepada orang tuanya untuk membeli buku baru atau peralatan sekolah yang baru. Namun niatnya ia kurungkan dalam hati dan bersabar menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya.
“Kamu kenapa diam toh nak? Ada apa?”
Tegur sang ibu yang memcahkan keheningan dimalam hari.
“Anu bu…hhmm.. eh…..hmm.. gak jadi deh bu, topic pembicaraannya gak terlalu penting kok bu. Aku hanya ingin melihat ibu menjahit “
“Oh… mau ngomong itu saja kok repot nak”
Azizah hanya tersenyum, namu hatinya berkata bahwa ia ingin mengatakan semua isi hatinya tentang apa yang selama ini selalu muncul dalam fikirannya dan ingin sekali meminta kepastian kepasa ibunya apakah ia masih bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Azizah berlalu meninggalkan ibunya yang masih asyik menjahit. Azizah duduk di kasrunya sambil memeluk kedua lututnya seraya berfikir bahwa ia ingin mencari penghasilan sendiri agar tidak selalu bergantung pada penghasilan kedua orang tuanya yang ia anggap masih dibawah standar penghidupan yang layak. Ia berfikir keras pekerjaan apa yang ia dapat lakukan dan pekerjaan apa yang mau menerima dirinya, serta pekerjaan yang tidak terlalu membebankan dirinya serta tidak terlalu menyita waktu untuk belajar dan bersekolah. Ia meraih handphone yang tergeletak di meja butut sebelah kasurnya, walau ia memilik handphone yang ketinggalan jaman namun handphone itu adalah handphone kesukaannya, karena selain awet handphone itu adalah pemberian sahabatnya semasa ia masih duduk di bangku SMP.
Azizah mulai mencari lowongan pekerjaan yang mau menerima dirinya, berkali-kali ia cari namun tak satu lowongan pun yang persyaratannya tidak sesuai dengan keadaanya saat ini, lalu ia mulai mencari lowongan di Koran Koran bekas yang terkumpul banyak dirumahnya. Pekerjaan orang tua Azizah adalah pemulung,sehingga tidak heran bahwa banyak sekali barang bekas yang sudah tak terpakai lagi menggunung dirumahnya bahkan tak jarang sekali ia menemui buku yang masih layak digunakan dan barang-barang lainnya masih layak pula untuk digunakan.
Dengan telunjuk jari yang menunjuk huruf demi huruf yang tertulis dalam Koran tersebut dan dengan gerakan cepat membaca yang perncah ia pelajari disekolah, tak ada satu lowonganpun yang menerima tenaga kerja yang masih berumur 16 tahun tersebut. Betapa sedihnya ia bahwa ia tak dapat mendapatkan penghasilan sendiri. Lalu Azizah membantingkan diri di kasurnya, sambil berbaring ia memainkan handphone dan mencoba untuk membuka sosial media yang baru saja ia dapat yaitu facebook. Ia mulai menulis statud di akun facebook barunya.
“Mencari pekerjaan itu susah yah… apalagi buat anak yang berumur 16 tahun”
Tak lama dari pembuatan status tersebut, ia mendapati seorang wanita tua yang terlihat awet mudah mengomentari statusnya.
“kamu butuh pekerjaan dik?”
Dengan sigap Azizah segera mengetik balasan komentar tersebut.
“ia bu.. saya sangat butuh pekerjaan, apakah ibu tahu pekerjaan apa yang dapat lakukan ?dan pekerjaan apa yang mau menerima saya?”
Tak lama kemudian Azizah mendapat respon kembali dari ibu tersebut.
“ya tentu saya tahu pekerjaan apa yang dapat kamu lakukan dan pekerjaan apa yang mau menerima seorang gadis yang berumur 16 tahu”
Dengan perasaan girang dan kaget, Azizah segera bangkit dan duduk dikasurnya serta membalas dengan cepat komentar dari ibu tersebut.
“maaf, kalau saya boleh tau pekerjaan apa itu bu?”
Ternyata saat Azizah ingin membalas komentar tersebut, koneksi yang ia dapat sangat rendah sehingga membuat Azizah menunggu agak lama. Ternyata saat komentar tersebut baru dapat terkirim, ibu tersebut sedang off line.
“Yah…. Ibu itu off line. Akukan lagi penasaran, gara-gara koneksi lamban nih”
Dengan wajah cemburut Azizah membaringkan kembali tubuhnya. Sambil menatapi handphonenya ia mencoba sekali lagi untuk membuka facebooknya kembali, dan saat itu juga ia sudah mendapat balasan komentar dari ibu tersebut serta pesan satu buah pesan yang tak terduga olehnya.
Dengan sigap Azizah membalas komentar tersebut.
“baik bu.”
Lalu Azizah segera mengklik tulisan pesan yang tertera di layar handphonenya. Alangkah terkejutnya saat ia membaca pesan yang ia dapat. Ternyata pesan tersebut dari seorang ibu yang berkomentar pada statusnya tadi.
“hai nak, kamu katanya butuh pekerjaan ya? Kebetulan saya ada pekerjaan buat kamu nak dan kebetulan juga saya lagi nyari anak gadis berumur ya seusia kamu”
Tiba- tiba mata Azizah membersar dan melototi layar handphonenya dengan perasaan girang namun tak percaya juga. Dengan sigap Azizah mengetik dengan tangan yang gemetar.
Dengan perasaan yang girang, Azizah bangkit kembali dan berlompat-lompat dikasurnya. Ia lupa bahwa haris sudah tengah malam. Hingga kakak perempuan memarahinya karena teriak tak karuan.
“kamu kenapa sih dek, kok berisik banget. Kakak gak bisa konseterasi kalau kamu berteriak gak jelas seperti itu, kamu liatkan kakak sedang apa?”
“hehe… maaf kak, adek Cuma lagi girang aja kak”
“girang boleh saja tapi kamu harus bisa mengontrol emosi kamu dek, ini sudah tengah malam. Kalau bapak sama ibu kebangun karena suara teriakmu bagaimana?”
Sambil menundukan wajah, Azizah merasa menyesal karena sudah berteriak dan membuat konsenterasi kakaknya menjadi buyar oleh suaranya. Azizahpun duduk kembali dan melanjutkan obrolannya dengan wanita yang belum sama sekali Azizah ketahui asal usul wanita tersebut.
“aku sekolah di SMA SEJAHTERA BERSAMA, aku duduk dibangku kelas 1, aku tinggal di jl.dahlia 2”
“wah kebetulan sekali ibu sering lewat jalan itu, bagaimana kalau minggu depan kita ketemuan?”
“minggu depan? Baiklah bu”
***
“kamu gila ya Zah? Kamu baru masuk SMA kok udah pengen kerja? Lagian pekerjaan apa yang mau menerima gadis yang berumur 16 tahun? Kalaupun ada pasti itu pekerjaan yang gak bener Zah. Mending kamu jangan mau diajak ketemuan apa lagi kamu gak tau asal usul ibu tersebut? Kalau terjadi sesuatu diluar keinginan kamu bagaimana?”
Tanya Riska dengan mata terbelalak karena shock mendengar berita dari teman sebangkunya.
“Ssssttt… kamu ngomongnya janga terlalu kencang, bisa-bisa orang tau. Percaya aja deh sama aku, gak bakalan ada apa-apa yang diluar keinginan aku kok. Aku pasti baik-baik aja.”
“kok santai dan enteng sekali kamu menjawabnya? Memangnya kamu tuhan yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya? Aku saranin jangan Zah jangan”
“tapi aku sangat butuh pekerjaan untuk biaya kuliahku nanti Ris”
“iya aku tahu itu Zah, tapi saat ini pekerjaan kamu itu Cuma belajar dan kalau masalah pendapatankan orang tua kamu yang ngurusin Zah”
Azizah hanya terdiam dan tak membalas perkataan teman sebangkunya, ia merasa jengkel dengan saran yang diberikan oleh kawan sebangkunya. Bahkan saran darinya pun tak satupun ia hiraukan.
Sepulang sekolah seperti biasa ia mengerjakan PRnya, saat ia mengerjakan PR hati kecil berkata bahwa ia tak usah datang menemui wanita tersebut. Namun ia tepis kata hati kecilnya dengan mengiming-imingi dirinya bahwa ia akan berpenghasilan hasil kerja kerasnya dan akan bisa meraih cita-citanya. Hati kecilnya selalu berkata hal yang sama hingga jatuh temponya perjanjian ia dengan wanita tersebut.
Sepulang sekolah,dengan perasaan yang girang dan ada rasa gugupnya ia menunggu wanita itu di sebuah kafe yang mewah, setelah lima belas menit menunggu wanita tersebut akhirnya wanita itu muncul dan menghampiri dirinya.
“hai kamu Azizahkan yang waktu di facebook bilang butuh pekerjaan?”
Dengan wajah memerah Azizah menjawab pertanyaan tersebut dengan suara yang gugup.
“i….i…..iya bu.. saya butuh pekerjaan bu”
Wanita itu melihat Azizah dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“kamu cantik, dan kamu memang cocok bekerja dipekerjaan ini, kamu saya terima sebagai karyawan saya”
Azizah begitu terkejut denga penerimaan dirinya sebagain karyawan.
“(dengan mata berkaca-kaca) terimkasih ibu atas penerimaannya”
Gadis itu menjabat tangan wanita itu dengan rasa yang amat sangat girang.
“baiklah,tidak apa-apa. Apakah kamu sudah membawa pakaian sesuai perjanjian kita sebelumnya?”
“iya bu, saya bawa. Tapi untuk apa ya bu?”
Tanpa basa basi wanita itu segera menggandeng gadis itu dan membawanya kesuatu tempat yang jauh. Jauh dari tempat ia tinggal dan bahkan daerah yang sangat asing baginya. Azizah tak berani bertanya apapun selama diperjalanan hingga ia tertidur didalam sebuah mobil yang mewah dan bersuhu dingin yang menyejukkan tubuhnya.
Alangkah terkejutnya saat Azizah terbangun dan mendapati dirinya sedang dalam keadaan tak berpakaian. Ia segera mencari tahu dimanakah ia saat ini dan hari sudah siang, saat ia sedang duduk sambil menutupi tubuhnya dengan selimut ia mendapati seorang pria tua yang sedang memakai jaznya dengan tergesa-gesa dan menciumi pipi kanan Azizah.
“siapa kamu?!?! Dan dimana aku? Mengapa aku tak mengenakan pakaian? Apa yang telah terjadi denganku? Mengapa aku tak ingat apa-apa?”
“kamu saat ini berada di hotel dan kita baru saja melakukan hal yang menyenangkan semalaman”
“maksud anda apa?”
Lelaki itu menunjuk kepalanya seraha berkata
“kamu fikirkan saja sendiri, aku sibuk dan aku ingin segera pergi. Selamat tinggal dan senang bisa bermalaman dengan anda”
Saat lelaki itu pergi keluar dari kamar tersebut, Azizah berteriak sekenang kencang melampiaskan rasa kekecewaanya, dan segera menyerobot pakaiannya yang berserakan dilantai. Dengan gerakan yang cepat Azizah melangkahkan kakis seribu mencari wanita berhati busuk tersebut, dan saat ia berhasil menemukan wanita itu alangkah terkejutnya ia mendapati wanita itu sedang berbincang dengan seorang pria tua berhidung belang yang sedang memegang uang untuk diberikan kepada wanita tersebut.
Saat pria tersebut pergi, Azizah memukuli wanita itu seraya berkata
“wanita berahati busuk kau?!? Kau jual harga diriku demi mendapatkan uang?!?!”
Wanita itu tak mau kalah, ia menyuruh pengawalnya untuk memegangi gadis itu
“kan kamu sendiri yang bilang bahwa kamu butuh pekerjaan, dan inilah pekerjaanmu. Dan kamu harus menerimanya karena hanya pekerjaan inilah yang dapat kamu lakukan saat ini”
Selama diperjalanan Azizah hanya bisa menangis, menangisi hal sudah menimpa pada dirinya. Betapa menyesalnya ia karena tidak menghiarukan saran dari teman sebangkunya. Kini Azizah tidak memiliki keberanian untuk kembali kerumah dan bersekolah seperti sebelumnya.
05.52 | Label: Cerpen KKP | 0 Comments
#Cerpen "Rona dan Bunga"
RONA DAN BUNGA
(Nur Aini Octavia - X MIA 6)
Bunga selalu indah membawa harum di pagi hari, seolah tak terlupakan oleh seorang gadis kecil bernama Rona, pagi nya selalu indah.. penuh dengan keceriaan, tawa, suka dan segala keindahan.
"hay Ayahh..", sapaan lembut seorang Rona
"iya Rona, Ayah menunggu mu sejak tadi". (mengelus kepala Rona yang tertutup jilbab)
"iya yah, maafkan aku membuat Ayah menunggu lama", jawab Rona.
"yasudah, tak apa. sekarang kita harus cepat jalan, let's go !!".
---○○○---
"kamu kenapa Rona?", tanya ayah cemas.
"aku tak apa, aku hanya rindu pergi kesekolah, dibawakan bekal oleh Bunda, aku merindukan bunda yaah dan aku juga ingin sekolah ".
"iya Rona, Ayah menunggu mu sejak tadi". (mengelus kepala Rona yang tertutup jilbab)
"iya yah, maafkan aku membuat Ayah menunggu lama", jawab Rona.
"yasudah, tak apa. sekarang kita harus cepat jalan, let's go !!".
Mereka pun berjalan ke suatu tempat dengan banyak taman yang di penuhi bunga-bunga yang amat sangat cantik dan indah. Mereka pergi ke tempat itu bukan hanya menikmati pemandangan alam saja tetapi lebih tepat nya mereka harus menyelesaikan misi, ya.. mempercantik halaman di taman agar semua orang tertarik melihat nya, sama seperti Rona yang tak pernah bosan melihat hasil karya Sang Pencipta.
Ayah Rona hanya bekerja sebagai pembersih taman yang cukup luas, namun hasil yang ia dapat tak banyak, hingga akhir nya Rona pun berhenti sekolah karena Ayah nya tak mampu lagi membiayai segala keperluan nya di sekolah, awal nya Rona merasa sedih.. ia masih ingin belajar, namun ayah nya berkata pada nya, "keinginan mu memang suatu kebaikan, belajar tidak hanya di sekolah, tapi kapan pun kamu mau berusaha dan berdoa, kamu dapat menemukan guru mu, ya.. guru yang memberi pelajaran berharga untuk mu".
Memang bukan suatu pemahaman yang panjang dan memakan waktu, tapi ucapan itu sangat menyentuh hati seorang gadis berumur 10 tahun, ya masih terlalu muda untuk mengerti, seorang anak yang mempunyai semangat untuk menuntut ilmu, kini harus belajar menerima kenyataan hidup yang begitu pahit untuk nya.
Tapi kepahitan tak berarti lagi, ketika iya menemukan berjuta warna yg penuh kecerahan, hati nya pun terbuka.. bagai bunga yang memekar, mungkin memang berjuta warna itu bukan milik nya, tapi pada kenyataan nya warna yang berjuta-juta itu telah sang pencipta gariskan untuk Rona, hingga dia bisa menikmati keindahan dari berjuta warna itu.
---○○○---
Suatu ketika Rona melihat teman sekolah nya yang lalu, teman nya itu ingin berangkat ke sekolah, Rona sedikit merasa iri, hanya sedikit saja. namun entah mengapa dia menjadi termenung dan menyendiri.
"aku tak apa, aku hanya rindu pergi kesekolah, dibawakan bekal oleh Bunda, aku merindukan bunda yaah dan aku juga ingin sekolah ".
air mata nya pun jatuh di pipi yang menggemaskan itu, ia pun memeluk erat Ayah nya, mungkin tak sanggup ia simpan semua kepedihan nya selama ini. Hati yang selama ini penuh warna keceriaan, kini pun menjadi gelap tak berarti.
Ternyata ia menyimpan luka dalam ceria nya..
menyimpan tawa dalam tangis nya..
menyimpan kepedihan di balik senyum nya..
dan ia pun menyimpan kerinduan dalam tegar nya..
dalam kuat nya.. dan kepolosan nya.
Hari itu Ayah pun tak bicara sepatah kata pun, ia membiarkan Rona melepaskan semua sesak yang selama ini ia pendam, Ayah nya pun hanya memeluk erat putri tercinta nya.
---○○○---
menyimpan kepedihan di balik senyum nya..
dan ia pun menyimpan kerinduan dalam tegar nya..
dalam kuat nya.. dan kepolosan nya.
Hari itu Ayah pun tak bicara sepatah kata pun, ia membiarkan Rona melepaskan semua sesak yang selama ini ia pendam, Ayah nya pun hanya memeluk erat putri tercinta nya.
---○○○---
Sama seperti bunga.. ada saat nya layu namun masih dapat tumbuh lagi pucuk bunga yang baru, kepedihan yang telah berlalu kini berganti lagi dengan wajah yang memancarkan keceriaan, begitulah semangat seorang Rona, saat semangat nya mulai padam, namun selalu tumbuh semangat baru di pagi hari, seolah pagi memberikan senyum nya untuk Rona.
"la..la..la..la.. hmm.. hmm.. (Rona pun bersenandung sambil memotong tanaman yang layu).
Tiba-tiba saat mereka sedang asyik mengerjakan tugas, ada seorang yang menghampiri Rona, Rona pun terkejut karena jarang sekali orang menhampiri nya saat sedang memotong tanaman yang layu.
"assalamu'alaikum nak, bolehkah Bapak bertanya sesuatu?",
sapa seorang lelaki separuh baya.
"wa'alaikum salam, iya boleh pak, mau bertanya apa?", jawab rona dengan sopan.
"kamu sedang apa di sini? seperti nya kamu sangat menyukai bunga-bunga di sini?".
"aku sedang membantu Ayah..
iya aku sangat suka, tapi aku tidak bisa memetik dan membawa nya pulang ke rumah, karena
jika aku membawa nya Ayah akan di marahi oleh pemilik taman ini", dengan polos nya Rona menyatakan keinginan nya.
"memang nya kamu tidak sekolah?".
"hmm.. aku sangat ingin sekolah dan belajar, tapi Ayah bilang aku bisa belajar dan menemukan guru ku dengan doa & usaha", jawab rona sedikit termenung.
"ohh.. yasudah tak apa :)
memang nya bunga ini untuk siapa jika kamu boleh memetik nya?", tanya Bapak itu lagi.
"aku mau memberi nya pada bunda, bunga ini sangat cantik sama seperti bunda ku", Rona pun menjawab sambil menunjukkan senyum nya.
(dalam hati lelaki separuh baya itu pun berbicara)
"subhanallah, gadis kecil ini begitu semangat membantu Ayah nya bekerja, seakan tak punya beban, sangat ikhlas menjalani apa yang allah beri saat ini, menikmati nya dengan bersyukur, tak sama dengan anak sebaya nya, yang kebanyakan ingin bermain.. tapi belajar menjadi keinginan nya dan hanya ingin memberi bunga kepada ibunda nya, sungguh suatu kepolosan yang menunjukkan kesederhanaan nya".
Tiba-tiba Ayah Rona pun menghampiri mereka, ia sangat terkejut melihat anak nya berbincang dengan seorang yang penting tentang taman ini.
"Ayaaahh.." panggil Rona sambil memeluk pinggang Ayah nya.
"iya nak, sebentar ya Ayah ingin bicara,
assalamu'alaikum pak, sejak kapan datang?" tanya ayah rona pada bapak itu.
"wa'alaikum salam, baru pagi ini.. ternyata saya lihat ada gadis kecil, apa yang ia lakukan di sini, ia putri mu?".
"iya, ini putri saya.. saya minta maaf karena tidak bicara tentang rona, awal nya ia hanya ikut saya bekerja namun dia memaksa untuk membantu, saya pun juga tak tega membiarkan nya sendiri di rumah tak melakukan apa-apa, bunda nya sudah 6 bulan lalu sakit parah, dan akhirnya meninggalkan kami berdua", jawab nya dengan raut wajah yang penuh kepedihan.
Bapak separuh baya itu adalah pemilik semua taman tempat mereka bekerja, ia pun hanya terdiam dan menatap wajah Rona yang masih sangat polos, untuk menerima kenyataan pahit ini. Ia sangat tersentuh dengan penjelasan yang Ayah Rona beri.
kamu mau tidak memetik bunga di sini bersama Bapak?".
"lho memang nya boleh pak?", dengan ragu iya pun menatap Ayah nya.
(Ayah nya pun hanya mengangguk tanda mengiyakan)
"horeeee.. iya aku mau sekali, itu bunga yang itu aku sangat ingin, apa boleh? dan yang di sana, apa juga boleh ku petik?".
"iya boleh Rona", jawab Bapak pemilik taman.
"iya boleh Rona", jawab Bapak pemilik taman.
"terimakasih banyak pak, yeeeyy.. aku bisa memberi nya pada Bunda, Ayah besok kita ke rumah Bunda ya".
(Ayah rona tersenyum begitu senang melihat keceriaan rona sekarang bertambah, 10 kali lipat dari sebelum nya)
---○○○---
(Ayah rona tersenyum begitu senang melihat keceriaan rona sekarang bertambah, 10 kali lipat dari sebelum nya)
---○○○---
Saat Rona sedang asik memetik bunga, pemilik taman itu berbicara pada Ayah Rona.
"saya begitu tersentuh, dari gadis kecil itu saya mendapat pelajaran berharga, bahwa kesederhanaan menjadikan semua terlihat indah, putri mu menjadi guru saya hari ini, jika boleh saya sangat ingin membiayai sekolah nya", dengan penuh harap agar Ayah Rona mau.
"wah terimakasih banyak pak, saya tidak ingin merepotkan siapapun".
"tidak, justru saya senang membantu, jika kamu menolak apa kamu tidak ingin mewujudkan keinginan nya?".
(keinginan Rona sangat penting bagi ayah Rona)
"baiklah pak, terimaksih banyak.. saya tidak tahu cara membalas jasa Bapak, sekali lagi terimakasih pak".
"iya, jaga terus didikan mu yang baik itu".
Akhir nya pun Rona bisa bersekolah kembali, dan kapan pun Rona mau bunga untuk sang unda, Bapak pemilik taman itu selalu memberi.. Rona pun bahagia dengan hidup nya yang dengan penuh kesederhanaan itu, karena kesederhanaan bagi Rona dan Ayah nya adalah suatu keindahan yang sangat berharga.
05.31 | Label: Cerpen KKP | 0 Comments
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.